Jejak Sejarah Bola Soba, Ikon Bone yang terbakar

3977
Bola Soba (rumah persahabatan) yang menjadi salah satu ikon Kabupaten Bone memiliki perjalanan sejarah yang panjang seiring eksistensi Bone di masa kerajaan. Bangunan yang terletak di Jalan Latenritatta, Watampone, ini merupakan replika dari rumah Kerajaan Bone yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Bone ke-30, La Pawawoi Karaeng Sigeri sekitar tahun 1890.
Jejak Sejarah Bola Soba, Rumah Adat Kerajaan Bone yang Terbakar (1)
Bola Soba atau Saoraja Petta Ponggawae, rumah adat Kerajaan Bone, sebelum terbakar.
Lokasi awalnya berada di Jalan Petta Ponggawae yang kini menjadi lokasi rumah jabatan Bupati Bone. Kemudian sempat dipindahkan di Jalan Veteran Bone, selanjutnya dibangun di Jalan Latenritatta pada tahun 1978 yang peresmiannya dilakukan pada 14 April 1982 oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) saat itu, Prof Dr Daoed Joesoef.
Dalam buku tentang sejarah Bola Soba terbitan tahun 1984 yang disusun Drs. Abdul Muttalib M, rumah adat yang juga dikenal dengan nama Saoraja Petta Ponggawae ini disebutkan beberapa kali berganti fungsi.
Awalnya, Bola Soba berfungsi sebagai istana Raja Bone ke-30, La Pawawoi Karaeng Sigeri pada tahun 1890. Kemudian ditempati oleh putra mahkota La Pawawoi bernama Baso Pagilingi Abdul Hamid yang kemudian diangkat menjadi Petta Ponggawae (panglima perang) Kerajaan Bone.
Saat ditempati oleh Petta Ponggawae, rumah ini mengalami perubahan pada bagian singkap rumah atau timpa’laja yang awalnya lima singkap menjadi empat singkap. Dalam tata kehidupan masyarakat Bugis masa lampau, lima singkap timpa’laja dalam bangunan rumah diperuntukkan bagi rumah raja dan timpa’laja dengan empat singkap untuk putra raja.
Jejak Sejarah Bola Soba, Rumah Adat Kerajaan Bone yang Terbakar (2)
Bola Soba atau Saoraja Petta Ponggawae, rumah adat Kerajaan Bone, sebelum terbakar. 
Sekitar tahun 1912, Saoraja Petta Ponggawae kemudian jatuh ke tangan Belanda dan dijadikan sebagai markas tentara. Di masa penguasaan Belanda ini, saoraja kemudian difungsikan sebagai mes atau penginapan untuk menjamu tamu Belanda. Dari sini kemudian saoraja ini juga dikenal dengan nama Bola Soba’, yang berarti rumah persahabatan.
Bola Soba’ juga pernah difungsikan sebagai istana sementara Raja Bone pada masa pemerintahan Raja Bone ke-31, La Mappanyukki pada tahun 1931, menjadi markas Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS), menjadi asrama TNI pada tahun 1957, hingga kemudian dijadikan sebagai bangunan peninggalan purbakala.
Sebagai replika rumah Raja Bone dan bangunan peninggalan sejarah, bangunan Bola Soba didesain untuk mendekati bangunan aslinya meskipun berbeda bahan dan ukuran.
Bola Soba memiliki panjang 39,45 meter yang dari empat bagian utama, yakni lego-lego (teras) sepanjang 5 meter, rumah induk sepanjang 21 meter, lari-larian/selasar penghubung rumah induk dengan bagian belakang sepanjang 8,5 meter serta bagian belakang yang diperuntukkan sebagai ruang dapur 4,3 meter.
Sayangnya, Bola Soba yang menjadi salah satu kebanggaan warga Bone ludes terbakar pada Sabtu (20/3) dini hari justru menjelang peringatan Hari Jadi Bone ke-691 pada 6 April 2021.