Sejarah Situs Cenrana Kabupaten Bone

582

Sejak berabad-abad yang lalu wilayah Cenrana memainkan peranan penting dalam pembentukan sejarah budaya di Sulawesi Selatan.

Cenrana sebagai kelanjutan sungai Walennae memiliki lembah-lembah sungai yang subur dan merupakan salah satu jalur penting transportasi dan komunikasi antara daratan tengah Sulawesi Selatan dan Teluk Bone.

Pada lokasi lembah sungai Walennae dan Cenrana inilah (okupasi) oleh manusia dilakukan secara intensif dan berlangsung kurun waktu yang lama. Pada jalur inilah Bone sebagai kerajaan Bugis yang berkembang pada abad-abad selanjutnya.

Situs Cenrana secara administratif berada di desa Nagauleng dan desa Ujung Tanah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone. Situs ini terkait erat dengan masa pemerintahan raja Bone ke-16 yaitu La Patau Matanna Tikka, Sultan Alimuddin Idris (1696-1714).

Data awal yang terhimpun dari situs cenrana yaitu terdapat bekas istana, benteng, dan sumur tua serta data artefaktual berupa fragmen keramik, gerabah, dan mata uang logam. Hal itu menandakan daerah Bone memiliki potensi besar tinggalan arkeologis.

Informasi yang ada menyebutkan, bahwa ibukota Bone hanya satu yaitu Lalebbata. Sekarang berada di Kecamatan Tanete Riattang tidak berpindah-pindah tempat.

Di situs Lalebbata terdapat peninggalan arkeologi berupa dua buah benteng. Pada satu di antaranya terdapat makam raja Bone dan benteng di Bajoe dekat pantai Teluk Bone dan juga masjid kuno.

Bone adalah salah satu kerajaan Bugis terkuat. Dalam lontara’ disebutkan kerajaan Bone mulai tumbuh pada abad ke-14 setelah tokoh tomanurung turun dari langit dan melakukan perkawinan di alam fana serta membentuk dinasti.

Menjelang abad ke-16 Bone telah menguasai wilayah selatan Sulawesi dan beraliansi dengan Wajo serta Soppeng (Tellumpoccoe) tahun 1852 untuk menghadapi kebangkitan kekuatan Makassar.

Pada tahun 1610-1611 Bone menerima Islam. Arung Palakka yang memerintah di kerajaan Bone dari tahun 1672-1696 membawa kejayaan Bone. Yang didukung aliansi Belanda, serta Bantaeng, Lamuru, Bulukumba, dan Soppeng.

Penguasaan terutama sepanjang aliran sungai Walennae-Cenrana yang merupakan wilayah penting dan pintu keluar Wajo menuju laut.

Kehebatan Bone terus berlangsung hingga abad ke-18 didukung oleh Belanda dan menjadi ancaman tersendiri bagi kerajaan Gowa Makassar pada abad tersebut.

Situs Cenrana juga memiliki kaitan erat dengan situs makam di Kecamatan Tanete Riattang yang terletak di Kelurahan Bukaka kompleks makam Kalokkoe. Dalam kompleks makam tersebut terdapat makam raja Bone ke-13 yaitu La Maddaremmeng yang merupakan kakek La Patau Matanna Tikka raja Bone ke-16.

Selain itu di dalam kompleks tersebut terdapat makam Batari Toja ratu Bone ke-17 yang merupakan anak La Patau Matanna Tikka dari hasil perkawinannya dengan We Ummu Datu Larompong.

Bone pada masa pemerintahan La Maddaremmeng pernah mengalami gejolak karena tindakannya yang keras dalam menerapkan hukum Islam. Kerajaan Gowa memperingatkan karena situasi tengah menghadapi Belanda. Namun peringatan itu tidak dihiraukan sehingga Gowa menyerang Bone.

Penyerangan itu terjadi pada tanggal 8 Oktober 1643 dan akhirnya La Maddaremmeng menyerah pada tanggal 23 Juli 1644. Karena kekalahan tersebut di Bone tidak diangkat lagi raja tetapi hanya wakil dari Gowa yang memerintah atas nama kerajaan Gowa.

Adapun yang ditetapkan sebagai wakil dari Gowa yaitu Karaeng Sumanna kemudian diganti oleh Tobala dengan pangkat jennang (pengawas).

Temuan Arkeologis:

Situs Cenrana merupakan situs yang cukup luas dari masa kerajaan Bone yang berkembang sejak abad ke-14. Dari aktivitas masa lampau yang pernah dilakukan meninggalkan beberapa jenis data arkeologi.

Data Bangunan:

Pintu Gerbang Benteng:

Pintu gerbang benteng di Cenrana ini disebut Timuangnge. Pintu tersebut menghadap ke arah barat yang dibuat dari susunan batu putih (batu gunung) dengan bahan perekat kapur (semacam bahan semen).

Lebar pintu masuk gerbang 3,10 meter yang pada kedua sisi bagian dalam terdapat lekukan penampang yang merupakan tempat balok pegangan daun pintu.

Lekukan tersebut masing-masing berukuran lebar 35 cm dan tinggi 3,7 meter. Kondisi pintu gerbang saat ini hampir seluruhnya tertutup semak-semak dan pada sisi kiri kanan pintu terdapat pohon beringin besar.

Tepat di depan pintu gerbang terdapat jalanan lurus melewati sungai Watu menuju ke kerajaan Mampu. Kerajaan Mampu merupakan kerajaan lili di bawah pengaruh Bone jauh sebelum Bone memeluk Islam.

Sungai Watu dihubungkan dengan sungai Cenrana oleh sungai Palakka (sungai buatan di sisi utara dinding benteng). Kondisi sungai Palakka saat ini sudah mengecil sehingga beberapa tempat hanya ditandai pohon-pihon nipah atau rumbia.

Di dalam benteng dari arah pintu gerbang jalanan membelok ke kiri (utara) sejauh 22 meter. Setelah sebelumnya masuk 15 meter yang selanjutnya menuju daerah dataran yang lebih luas.

Benteng :

Benteng yang ada pada situs Cenrana berada pada sisi barat dan utara. Kemungkinan besar untuk persiapan jika ada serangan dari arah Wajo yang juga memiliki kepentingan dengan sungai Cenrana. Karena merupakan pintu keluar menuju pasar perdagangan laut lepas di Teluk Bone.

Benteng disusun menggunakan batu gunung yang membentuk struktur dinding. Namun dibeberapa tempat memanfaatkan kondisi alamiah tanah yang sudah berupa daerah ketinggian.

Dibeberapa tempat masih tampak struktur batu untuk benteng namun lebih banyak yang telah runtuh. Struktur yang masih tampak sekitar 15 meter di sebelah selatan pintu gerbang.

Istana Bone Balla:

Istana kerajaan Bone di situs Cenrana menempati lokasi sebidang tanah seluas 7.000 meter bujur sangkar yang disebut Tibojong.

Istana Bone Balla menghadap ke timur sesuai arah datangnya sumber kehidupan (matahari). Namun demikian istana ini tidak menyisakan data material kecuali gejala tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya.

Bangunan istana Bone Balla pernah dipindahkan ke Bone (Watampone) namun tidak sampai karena tenggelam di Babang Wae di Awangpone.

Masjid Kuno:

Sebagai kerajaan yang telah menganut Islam, Bone juga pernah membangun masjid. Pada situs bekas istana di Cenrana sisa masjid yang pernah dibangun La Patau Matanna Tikka sudah tidak ditemukan. Namun masjid kerajaan dahulu berada di lokasi masjid raya Cenrana sekarang ini.

Sumur Kuno:

Sebagai bekas pusat permukiman dan istana raja, situs Cenrana menyimpan banyak data sumur tua yang tercatat ada 7 buah sumur.

Sumur-sumur itu terbuat dari bahan batu gunung yang diplaster. Lubang berbentuk bulat dan persegi bagian luarnya.

Semua sumur menunjukkan ukuran yang relatif sama. Sumur-sumur tersebut pada saat tertentu (upacara kerajaan dan pesta panen) difungsikan secara berbeda, ada untuk memasak, mandi, cuci kaki, dan lain-lain.

Sumur I di Desa Ujung Tanah :

Sumur ini terletak sebelah selatan lokasi istana Bone Balla. Kondisi sumur sudah agak rusak terutama di sudut barat laut dan sudah tidak digunakan lagi.

Waktu upacara kerajaan sumur ini digunakan untuk cuci kaki. Lokasinya terbuka dan sekitarnya banyak temuan keramik dan gerabah.

Gerabah adalah perkakas yang terbuat dari tanah liat yang dibentuk kemudian dibakar untuk kemudian dijadikan alat-alat yang berguna membantu kehidupan manusia.

Sumur II di Desa Ujung Tanah :

Terletak sekitar 20 meter kearah selatan Sumur I. Kondisi sumur tertutup rumput dan ilalang yang rimbun. Di masa kerajaan sumur ini berfungsi untuk minum dan memandikan kuda.

Sumur III di Desa Ujung Tanah :

Terletak disebelah selatan pintu gerbang sekitar 150 meter. Kondisi saat ini sumur rata dengan tanah dan tertutup semak-semak.

Sebelumnya sumur tersebut berdiameter 98 cm dengan kedalaman 8 meter. Dan sumur ke III ini yang paling dalam di antara sumur lainnya yang hanya memiliki kedalaman 2-3 meter.

Di masa kerajaan sumur ini digunakan masyarakat setelah bermain raga dan bermain logo (mallogo) sejenis permainan kerajaan pada waktu itu.

Sumur IV di Desa Nagauleng :

Sumur ini terletak dekat perbatasan Desa Ujung Tanah dan Desa Nagauleng. Berada di tepi jalan poros Cenrana-Bone. Di masa kerajaan sumur ini berfungsi sebagai tempat mandi raja.

Sumur V di Desa Nagauleng :

Sumur ini terletak antara sumur III dan makam La Patau Matanna Tikka di Nagauleng sejauh 200 meter. Kondisi sumur sudah berubah dari bentuk aslinya dan sudah diberi dinding tembok yang mengelilingi sumur.

Di masa kerajaan sumur ini berfungsi untuk mandi warga kerajaan dan berlangsung sampai sekarang digunakan masyarakat setempat untuk mandi.

Sumur VI di Desa Nagauleng :

Sumur ini terletak di dalam kompleks makam La Patau Matanna Tikka di Desa Nagauleng. Saat ini sumur tersebut digunakan masyarakat setempat untuk keperluan sehari-hari.

Sumur VII di Desa Nagauleng:

Sumur ini terletak 300 meter dari makam La Patau Matanna Tikka. Beberapa bagian sudah direnovasi dan lantai sekitarnya sudah diganti kecuali sisi bagian dalam sumur.

Sumur tersebut di masa kerajaan digunakan untuk mencuci beras dan mandi. Saat ini sumur masih digunakan warga setempat.

Sumur VIII di Desa Nagauleng:

Di masa lalu sumur ini digunakan sebagai tempat mandi dayang-dayang kerajaan serta tamu-tamu kerajaan. Dengan demikian layak disebut sebagai “bubung topole” artinya sumur untuk para tamu.

Sumur topole ini berada di bawah rumpun-rumpun bambu, tidak terpelihara dan sudah tidak digunakan lagi. Sebagian masyarakat setempat mengatakan kalau Sumur VIII ini bukan sumur kerajaan.

Akan tetapi apabila digunakan dayang-dayang dan tamu kerajaan berarti sumur tersebut termasuk pula bagian dari sumur kerajaan.

Tidak seperti kerajaan lainnya biasanya rata-rata mempunyai hanya tujuh sumur yang disebut “bubung pitu” atau tujuh sumur. Ketujuh sumur tersebut disebut “bubung karajang” artinya sumur yang berfungsi untuk kerajaan.

Nah, itulah sumur-sumur kerajaan yang terdapat di Situs Cenrana Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone. Sumur-sumur tersebut terletak di dua desa, yaitu Desa Ujung Tanah dan Desa Nagauleng.

Tempat Pengolahan Mesiu:

Lokasi pengolahan mesiu di Situs Cenrana terletak di sisi utara istana Bone Balla sejauh sekitar 170 meter.

Di lokasi ini menyisakan data berupa lempengan batu besar sebagai penahan panas pengapian dan saluran sepanjang 100 meter.

Dari gejala yang ada tempat pengolahan mesiu ini lebih layak disebut sebagai tempat pembuatan senjata kerajaan.

Tempat Pembakaran Kapur :

Lokasi pembakaran kapur terletak di sisi utara tepian benteng sekitar 40 meter dari tempat pembuatan mesiu.

Di lokasi tempat pembuatan kapur ini terdapat tiga buah tungku berbentuk sumuran sedalam 3,5 meter. Tungku-tungku tersebut berderet dari timur-barat sejauh masing-masing 4 meter.

Lubang pengapian berdiameter lebar 55-85 cm dan tinggi antara 75-120 cm yang menghadap utara di mana terdapat sungai buatan Palakka.

Perlunya akan air dalam pengolahan bahan kapur merupakan alasan sehingga tungku pembakaran terletak di sisi utara dekat sungai. Adapun fungsi batu kapur ini untuk pembuatan plester sebagai perekat dinding benteng.

Kompleks Makam di Situs Cenrana :

Situs bekas kerajaan Bone di Cenrana ini terdapat beberapa kompleks makam kuno dengan bentuk bervariasi.

Adapun makam-makam kuno yang ada di Situs Cenrana, Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, yaitu :

1. Kompleks Makam We Mappolo Bombang.
Adapun makam We Mappolo Bombang merupakan ibu kandung La Patau Matanna Tikka (Raja Bone ke-16). Beliau dimakamkan dengan menggunakan nisan tipe Aceh.

Makam We Mappolo Bombang terletak dalam kompleks kecil dengan pagar keliling seluas 6 x 8 meter bujur sangkar. Di dalam area kecil ini terdapat tiga buah makam yang merupakan hubungan kerabat We Mappolo Bombang.

2. Makam Toloso.
Toloso ini adalah orang yang membuat nisan La Patau Matanna Tikka. Makam Toloso tidak bernisan dan ia dimakamkan secara berdiri.

Makamnya hanya terdiri susunan batu yang membentuk gundukan. Makam Toloso ini terletak di sebelah barat daya kompleks makam We Mappolo Bombang.

3. Kompleks Makam Berinskripsi.

Makam berinskripsi artinya makam yang menggambarkan informasi berupa kata-kata yang diukirkan pada batu nisan/monumen dan sebagainya.

Berikut ini makam-makam yang berinskripsi yang terdapat di Situs Cenrana Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone.

Makam I :
Makam ini berada di kompleks makam umum dengan populasi yang padat. Makamnya berbentuk segi delapan. Pada badan nisan terdapat inskripsi aksara Arab yang berbunyi “Allahu Wallahi”.

Pada nisan itu terdapat pula inskripsi aksara Bugis yang berbunyi ” Pungke” pada baris pertama dan “Ma’ang” pada baris kedua.

Makan II :
Makam ini merupakan makam umum dan pada nisan terdapat inskripsi aksara Bugis yang berbunyi “Mesana” pada baris pertama dan “Datu Samula” pada baris kedua.

Apabila inskripsi pada makam tersebut diartikan dalam bahasa Indonesia, yaitu Nisannya Datu Samula (Mesana Datu Samula).

Makam III :
Bentuk makam ini setengah lingkaran dengan kondisi yang sudah aus (bugis: puppu). Nisan tersebut terbuat dari bahan batu andesit. Batu andesit adalah suatu jenis batuan beku vulkanik.

Makam tersebut pada bagian nisannya terdapat inskripsi aksara Bugis yang berbunyi “Payangsa’ro”.

Makam IV :
Pada makam ini tertulis inskripsi aksara Bugis yang berbunyi “Panemmai”. Artinya makam ini menunjukkan makam Panemmai.

Makam V :
Makam ini terletak di kebun warga yang bernama H.Luppa. Dengan bentuk segi delapan dan hiasannya berbentuk tumpal.

Tumpal artinya motif batik dengan lukisan tiga setrip yang berjajar seperti pada sarung dan sebagainya.

Pada bagian hiasan tumpal terdapat inskripsi aksara Bugis yang terbagi empat bagian, yaitu Kasemmang, Badang, Tappa, Kusa.

Makam VI :
Pada makam ini terdapat inskripsi yang menunjukkan angka 1218 Hijriah. Apabila angka ini dijadikan tahun masehi menjadi 1798 Masehi. Angka ini semasa pemerintahan La Patau Matanna Tikka (1696-1714).

Makam VII :
Pada makam ini terdapat inskripsi aksara Bugis yang berbunyi “Mesana Dopparukaba dan “Wigai Natang”. Artinya makam ini adalah kuburannya Dopparukaba dan Wigai Natang.

4. Kompleks Makam Nisan Batu Kapur

Kompleks makam ini terletak sekitar 50 meter sebelah timur laut kompleks istana Bone Balla. Sudah bercampur dengan makam baru.

Beberapa nisan banyak menggunakan batu kapur. Sebagian yang lain menggunakan batuan sedimen yang mengandung banyak hiasan. Makam yang ada tidak memuat inskripsi atau nama.

5. Kompleks Makam Nisan Arca

Kompleks makam ini terletak tidak jauh tempat pembuatan mesiu sekira 20 meter. Jumlah makam dalam kompleks ini tidak terlalu banyak. Kebanyakan menggunakan batuan sedimen.

Namun salah satu yang menarik dalam kompleks makam ini adalah adanya sebuah makam yang menggunakan nisan dengan bentuk “arca manusia”. Sayang tidak diketahui nama yang dimakamkan.

Nisan arca tersebut berbentuk setengah badan, di bagian atas kepala terdapat tonjolan semacam gelung rambut dan tidak memakai baju. Kondisi nisan yang terbuat dari batuan sedimen ini sudah mulai aus terkelupas batunya.

6. Makam Syekh Muhammad Djafar (La Pakkalosi)

Makam ini terletak di seberang sungai Cenrana kira-kira sejajar dengan istana Bone Balla sejauh 100 meter di sebelah utara Sungai Cenrana.

Syekh Muhammad Djafar adalah anak Arung Peneki Wajo. Ia bercita-cita menjadi raja Bone namun harapannya itu tidak kesampaian hingga ia meninggal.

Adapun nisan Syekh Muhammad Djafar yang digelar La Pakkalosi ini setinggi 160 cm dan bertuliskan inskripsi aksara Arab.

Kemudian di sebelah utara Syekh Muhammad Djafar terdapat makam La Pagumpa yaitu kakak Syekh Muhammad Djafar La Pakkalosi.

7. Kompleks Makam La Patau Matanna Tikka

Di dalam kompleks makam La Patau Matanna Tikka terdapat sejumlah tokoh kerajaan serta para isterinya, yaitu :

Makam Isteri La Patau Matanna Tikka, antara lain : I Mariama (isteri pertama), Datu Mampu (isteri kedua), Datu Larompong (isteri ketiga), Datu Ujung Pasilo (isteri keempat), Sundari Datu Soppeng (isteri kelima).

Ada pula isteri La Patau Matanna Tikka yang dimakamkan di luar kompleks. Makam itu bernama Dara Cenning.

Ia adalah isteri La Patau Matanna Tikka yang merupakan putri keturunan Datu Soppeng. Ia mati terbunuh karena melakukan pelanggaran adat yaitu malaweng.

Selain itu makam yang berada di luar kompleks adalah para pembantu, yakni Mattejjo (ulama), Petta Rala (pacilo-cilo/ajudan), Petta Djanggoe (pemimpin pasukan), Buto (ahli nujum), dan Petta Tutu (penasihat kerajaan).

Tempat Main Raga (Maddaga)

Tempat main raga pada zaman kerajaan terletak di sisi selatan pintu gerbang di tanah yang datar.

Arena main raga (bugis: maddaga) ini diplester dengan areal seluas 20 x 50 meter bujur sangkar. Kondisi saat ini yang masih tersisa adalah tanah datar yang ditumbuhi semak belukar.

Tempat Main Logo (Mallogo)

Mallogo adalah permainan yang menggunakan tempurung kelapa (bugis: capeng). Tempurung kelapa dibuat segitiga dan ditancapkan berjajar ke belakang. Kemudian selanjutnya dipukul satu agar jatuh semua.

Tempat main logo terletak sebelah timur arena maddaga (main raga) yang membujur dari utara-selatan.

Data Artefaktual di Situs Cenrana

Data artefaktual di sini diartikan menggambarkan data secara spesifik tentang penemuan benda-benda yang terdapat di Situs Cenrana.

Dari hasil berbagai survei di situs Cenrana ditemukan berbagai jenis data berupa fragmen keramik, gerabah, dan kerang.

1. Keramik

Keramik banyak ditemukan di sekitar istana Bone Balla, dan jalan ke Sumur VIII (bubung topole). Fragmen keramik yang ditemukan umumnya berasal dari Dinasti Ming dan Qing, serta beberap dari Thailand, Vietnam, dan Jepang.

2. Gerabah

Gerabah atau perkakas dari tanah liat yang ditemukan umumnya polos. Banyak ditemukan di sekitar Sumur I dan Sumur II. Bentuknya bervariasi tergantung keperluan.

3. Moluska

Kerang atau moluska yang ditemukan berasal dari kerang laut yang dikonsumsi keluarga kerajaan. Kerang-kerangan paling banyak ditemukan di sekitar istana Bone Balla. ( Hasil Penelitian Suaka Sulselra 1990).(telukbone/RR)

BAGIKAN